Adventure
Serasa menghempaskan diri dari alam bebas, membuat lambung menjadi pemberontak dalam diri. Yah itulah yang aku rasakan pada saat pesawat membawaku bersamanya. Dengan media layar kecil yang tepat lima belas senti di depan mata, aku melihat apa yang ada di bawah thooiroh, dan hanyalah warna coklat yang mendominasi pandangan mata. Tiada hijau mewarnai daerah itu, hanyalah hamparan luas yang dipenuhi oleh fatamorgana yang menjadi-jadi. Pesawat dengan nomor penerbangan EY 632 telah berhasil meluluh-lantahkan kemampuan bertahan diri.hehe. Semua terjadi begitu cepat, tanpa adanya kesadaran.
Semua berawal dari....
suatu harap kan terjadi
tapi terkadang tak terjadi
yah itulah kehidupan yg terjadi
terkadang tak diharapkan tuk terjadi
cerita ini aku awali dengan sepenggal puisi di atas yang menggambarkan relung hati yang sangat gundah akan apa yang terjadi pada hidupku. Tapi aku sadar bahwa segala sesuatu yang kita inginkan terkadang tidak terjadi sesuai, he he..... Ada yang bilang bahwa kehidupan ini adalah suatu kebohongan yang tiada akhir, tidak tau kenapa kok sampai bisa berargumen seperti itu tetapi setelah aku amati ternyata memang ada benarnya tetapi rahasia Tuhan adalah segalanya.
Tuhan tau segala yg terjadi
kita hanya bisa berharap tuk terjadi
tanpa kuasa tuk menentukan yg terjadi
yah inilah takdir yg terjadi
07 Oktober 2012
Aku duduk manis di mushalla tanpa identitas yang mungkin bisa dipastikan keberadaannya. Stasiun, yaaah aku di dalam musholla stasiun Kertosono untuk menunggu datangnya makhluk besi panjang yang senantiasa markir di stasiun. Aku bersama temanku yang berasal dari pulau garam. Dia mondok di kota jombang yang juga senantiasa menunggu kedatangannya. badannya semampai, agak tinggi dari aku, kulit coklat dengan wajah khas pulau celurit dan tentunya logat bahasa, he..he.... Dia lugu, tidak banyak bicara tapi banyak tindak. Hidup di pondok kurang lebih empat tahun, yang bertempat di Denanyar Jombang. Dari keluguannya terkadang membikin aku sebel tapi itu menjadikan aku sadar akan keberagaman watak dan corak manusia. Asumsi yang aku punya bahwa anak madura kebanyakan, punya kepribadian yang bisa dikatakan lumayan keras tapi, argument ini dimentahkan oleh teman ku yang satu ini...
Kereta pun muncul dengan senyum semangatnya, seakan tak kenal lelah, sembari menyapa keberadaan kami berdua. Dengan semangat, kami memasukinya dan langsung celengak-celenguk mencari nomer gerbong dan nomer duduk. Setelah aku lihat di tiket biru yang identik dengan jenis kereta yang agak woww...(meskipun ekonomi waktu itu)hehe... Dan akhirnya aku menemukan bangku duduk dengan nomer 15A. Sementara temen carok-ku ada di nomer 15B, di gerbong ke-5 kereta MAJAPAHIT dengan seri 93L. Selanjutnya kami terdiam, duduk manis seperti aku masa TeKa doeloe. Dengan durasi waktu mulai keberangkatan kereta pada jam 17:33 dan dijadwalkan sampai sana pada jam 06:27 pagi. Bisa dibayangkan betapa suntuknya kami duduk berdampingan dan berhadapan sama dua orang yang mengaku mau datang ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan unit darurat.
Sampai di ibukota Jakarta, pencarian tempat tujuan kami dimulai. Tempat dimana kesehatan kami akan diperiksa. Dan selama setengah hari mencari, hasilnya masih belum ketemu. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk istirahat dan mengisi perut yang sedari pagi belum terisi.
"nanti kalau kita masih belum menemukan tempat itu bagaimana ?", tanya teman Maduraku.
"ya udah kita cari aja lagi, kalau memang belum menemukan yaaah... kita tidur saja di masjid."
"iya kalau boleh. la kalau tidak boleh ? gimana ?"
"iya nanti coba aku ngehubungi temenku yang dekat sini."
Perjalanan lanjut hingga kami menemukan sebuah masjid dan ketemu dengan salah satu marbot-nya. kemudian kami meminta izin untuk bisa tinggal di masjid semalam, tapi tidak diperkenankan. hari semakin sore dan kami mencoba jalan lagi untuk sebisa mungkin mendapatkan posisi tempat tujuan. Sampai pada puncaknya kita berhenti di masjid karna hujan deras mengguyur kota ini.

Komentar
Posting Komentar
thank's very much