Bangsa Kagetan VS Bangsa Alay
Sudah seminggu kemarin kita merayakan hari kemerdekaan
Endonesa yang ke-71. Bung Karno, Bung Hatta dan Bung-bung lainnya sudah barang
tentu tidak akan pernah sirna dari yang namanya ritual pengheningan cipta di
acara upacara di manapun berada. Yah secara mereka lah yang sangat kelihatan
berjasa di hari-hari dekat kemerdekaan waktu itu.
Bangsa Endonesa adalah bangsa yang sangat besar. Bagaimana
tidak, jargon Bhinneka Tunggal Ika adalah sebagai bukti kebesaran bangsa kita.
Berapapun perbedaan yang ada, pasti nantinya akan bersatu jua. Katanya, doeloe.
Kenyataannya sekarang yang namanya Ko Ahok sama Abang Jonru, mereka tidak akan
pernah mau berpelukan. Ya iyalah, nanti malah dikira pro-LGBT. Hehei.
Jadi jangan kaget kalau sekarang banyak pepatah yang mudah
dipatahkan dengan berita-berita yang beredar di Facebook atau medsos
lainnya. Tapi ada satu, yang saya sendiri belum menemukan yang bisa mematahkan
pepatah “mati satu tumbuh seribu”. Kenapa ?
Karena pepatah itu erat hubungannya dengan isu-isu yang ada
di Endonesa. Isu status kewarganegaraan Menteri ESDM Archandra Tahar sudah
pudar. Eh, tumbuh banyak sekali isu selanjutnya. Untung kemenangan kaka Owi dan
eneng Natsir bukan hanya isu yang dimunculkan oleh salah satu media kabar.
Bangsa kagetan
Kuantitas isu yang beredar berbanding lurus dengan kuantitas
orang-orang yang kaget. Semakin isu itu berkaitan dengan kehidupan bangsa kita,
semakin akan ramai dan wew untuk diperbincangkan. Penulis sendiri sudah
menemukan lebih dari lima perhari status dan komentar tentang isu yang terbaru.
Yaitu kenaikan harga rokok.
B: “wah ini harus didiskusikan ini!, karena menyangkut banyak
hal.”
A: “$@^$#^&”


Komentar
Posting Komentar
thank's very much